51 Tahun ITBA Al Gazali Barru: Kampus Daerah, Daya Saing Global

Opini Pendidikan
Spread the love

Pedomankita.com, Barru – Perguruan tinggi tidak selalu tumbuh dari kemegahan gedung, besarnya jumlah mahasiswa, atau popularitas nasional. Sebagian justru lahir dan bertahan melalui proses panjang yang sunyi, diwarnai keterbatasan, pengorbanan, dan komitmen yang jarang disorot. Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi Al Gazali Barru adalah salah satu contoh nyata dari perjalanan tersebut.

Sejarah ITBA Al Gazali Barru bermula dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (STIS), kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA), hingga kini berikhtiar sebagai institut. Transformasi ini bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan upaya sadar untuk menjaga relevansi institusi di tengah dinamika regulasi pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, khususnya di daerah.

Perubahan kelembagaan tersebut tercermin jelas dalam dinamika akademik. Dari masa lulusan bergelar Drs, kemudian beralih menjadi Sarjana Sosial (S.Sos), hingga kini menghadirkan tiga Program Studi Administrasi Publik dengan gelar Sarjana Administrasi Publik (S.A.P), ITBA Al Gazali Barru menunjukkan konsistensi dalam membangun fondasi keilmuan administrasi publik. Tonggak penting transformasi akademik ditandai dengan dibukanya Program Magister (S2) Administrasi Publik. Kehadiran program magister ini bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan, tetapi menegaskan orientasi institusi menuju center of excellence dalam pengembangan tata kelola dan kepemimpinan publik berbasis konteks daerah.

Program S2 Administrasi Publik dirancang untuk memperkuat kapasitas analitis, kepemimpinan strategis, dan jejaring kolaboratif dengan pemerintah daerah, praktisi kebijakan, serta komunitas akademik. Dalam konteks ini, orientasi world-class tidak dimaknai sebagai imitasi kampus besar, melainkan sebagai upaya membangun mutu yang terstandar secara global, namun tetap relevan dan membumi dengan kebutuhan lokal.

Penguatan akademik tersebut dilengkapi dengan pembukaan Program Studi Bisnis Digital dan Sistem Informasi yang saat ini tengah berjalan menuju semester ketiga. Langkah ini mencerminkan kesadaran institusi bahwa masa depan pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari transformasi digital. Bagi kampus daerah, kehadiran program studi ini adalah strategi penting agar generasi muda lokal tidak tertinggal dalam kompetisi ekonomi dan teknologi yang semakin terbuka.

Namun tantangan utama ITBA Al Gazali Barru bukan hanya soal pengembangan program studi. Sebagai perguruan tinggi swasta kecil di daerah, institusi ini harus bertahan di tengah maraknya perguruan tinggi negeri dan swasta dengan sumber daya yang jauh lebih mapan. Dalam situasi tersebut, kampus ini memilih jalan yang tidak selalu populer, tetapi bernilai: keberpihakan pada akses pendidikan.

Kebijakan SPP yang relatif rendah dan dapat diangsur menjadi wujud konkret dari pilihan tersebut. Melalui kebijakan ini, masyarakat Barru dan kabupaten sekitarnya—Pangkep, Soppeng, Bone, hingga Parepare—memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pendidikan tidak diposisikan sebagai komoditas, melainkan sebagai hak sosial yang harus diperjuangkan bersama.

Tentu saja, kebijakan ini tidak bebas risiko. Keterbatasan finansial menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan dan berdampak langsung pada dosen serta tenaga kependidikan. Namun di sanalah nilai pengabdian menemukan maknanya. Dengan segala keterbatasan, sivitas akademika ITBA Al Gazali Barru tetap bertahan dan bekerja, ditopang oleh kepemimpinan institusional yang kolaboratif serta kesadaran kolektif bahwa pendidikan di daerah adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Memasuki usia ke-51 tahun, ITBA Al Gazali Barru mungkin tidak besar dalam ukuran statistik, tetapi ia besar dalam nilai, konsistensi, dan keberpihakan. Kampus ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi di daerah dapat tumbuh, bertransformasi, dan berkontribusi secara nyata jika dijalankan dengan keberanian, ketekunan, serta visi kepemimpinan yang berpihak pada kepentingan publik.

Di tengah arus sentralisasi pendidikan dan kompetisi global, pengalaman ITBA Al Gazali Barru memberikan pelajaran penting: bahwa kampus daerah tidak harus menjadi besar untuk menjadi bermakna. Cukup dengan menjaga mutu, memperluas kolaborasi, dan setia pada akses pendidikan, kampus kecil pun dapat memiliki daya saing dan dampak yang melampaui batas geografisnya.

— Dr. Kasmiah Ali, S.Sos., M.A.P.
Dosen dan Alumni Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi Al Gazali Barru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *